Sabtu, 08 Februari 2014

Janganlah Pernah Merasa Puas!


Untuk catatan hari ini, Daud mau nulis apa ya? Bingung. Ya, biginilah kalau hati tengah ngak karuan. banyak pikiran. Aku teringat kata kakak senior sewaktu mengikuti pelatihan menulis beberapa bulan lalu, kata kakak, "Kalau kamu lagi bingung sewaktu menulis, bingung apa yang harus ditulis, bingung karena ngak punya ide, atau bingung karena ini karena itu. Maka kamu ngak perlu nunggu mpe ide itu datang atau nunggu semua yang membuat kamu bingung tersebut hilang. Tulis apa yang ada dipikiran kamu. 

Nah, satu hal yang menjadi pertanyaan Aku sekarang, "Apa perlu aku menulis semua yang ada dipikiranku?" Oh tidak. Mana mungkin Aku sanggup menulis semua yang ada dipikiranku. 

Daripada bicara masalah bingung, bingung, dan bingung, lebih baik Daud curhatan aja sama sobat. Gimana sob, mau ngak dengarin curhat Daud? 

Oke! Sekarang Daud akan memulai curhat. Tapi ingat, ntar kalo udah selesai berikan komentar yang membangun yah. biar asyik deh. Hehee... 

Dulu, beberapa bulan yang lalu, Daud pernah menerima SMS dari teman. Ayuuu.... tebak! Apa bunyi SMS-nya?? Ngajakin jalan-jalan? BUKAN. Ngajak nonton Bareng? NGAK toh. Terus apa deh? Mau tahu aja... Hihihi.... 

Sebenarnya isi SMSnya tersebut bukan ngajakin Daud ke sana atau ke sini. SMSnya cukup menarik perhatian bagi Daud. Kenapa Tidak? Teman Daud yang berinial IB itu menanyakan dalam SMS-nya sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang yang sudah tahu jawabannya, alias yang udah pintar, ngak bakal jadi masalah. Tapi bagi Daud ini merupakan sesuatu hal yang baru dan belum pernah terpikirkan sebelumnya. 

Pertanyaannya cukup mudah, gimana hukumnya sholatnya seorang perempuan yang mengenakan mukena yang tanpa tangan, opss... bukan tanpa tangan, tapi tanpa lengan baju, hhheee.... Dan seringkali ketika sujud, telapak tangan si perempuan tersebut tidak langsung menyentuh tempat sujud, disebabkan terlapik kain mukena yang panjang, kendati tanpa lengan baju tersebut. Nah, yang menjadi pokok pertanyaannya, gimana hukum kesahan sholat seorang perempuan yang ketika sujudnya, telapak tangannya tidak secara langsung menyentuh tempat sujud. 

Hmmm... Gimana, mudahkan?? Ya mudah sih bagi yang tahu jawabannya. Tapi bagi Daud itu dulu merupakan suatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku pun tidak langsung menjawab SMS tersebut dengan jawaban asal-asalan. 

Memang kalau bayangan sebelumnya ada sih sudah untuk jawaban pertanyaan tersebut. Tapi aku masih ragu. Takutnya nanti kalo salah gimana? Hukum ngak bisa dijawab dengan asal-asalan! Batinku dulu.

Aku pun sibuk merujuk kembali ke beberapa kitab untuk mencari jawaban yang sahih untuk pertanyaan tersebut, dari yang kecil sampe yang besar. Wahh... cape juga ya nyarinya. Alhasil, setelah beberpa lama bulak-balik, buka kitab ini, kitab itu, akhirnya Aku pun menemukan juga jawaban yang dicari.
Alhamdulillah. Aku bersyukur atas karunia Allah untukku yang telah membantu Aku dalam mencari jawaban tersebut. Dan Aku juga bersyukur atas kepercayaan teman-teman yang telah beranggapan bahwa hamba yang lemah ini bisa memberikan solusi, sebuah jawaban yang menjadi unek-unek di hati.

Curhat ini bukanlah sebuah kesombongan atau pamer, tapi sebuah tahaddust binni'mah. Karena Allah SWT menyukai orang yang bersifat demikian (lihat ayat terakhir dari Surah Adh-Dhuha). 

Satu hal yang menjadi sebuah pelajaran dari curhat ini, yaitu hendaklah kita sebagai pelajar, santri, atau mahasiswa, dimana masyarakat menganggap kita sebagai kaum elite dalam dunia pendidikan, sudah selayaknya bagi kita untuk selalu siap menghadapi tantangan, siap memberikan jawaban, siap menyumbangkan pemikiran dengan berasaskan keshahihan. Untuk itu tidaklah mudah, kecuali dimulai dari sekarang. Siapkan semuanya dengan belajar, belajar, dan belajar. Janganlah pernah merasa puas dengan apa yang sudah diketahui. Karena kita tidak tahu kapan kita akan ditanya oleh masyarakan tentang suatu masalah yang pelik? Dan kita pun tidak mungkin tahu apakah nanti kita mampu menjawab pertanyaan tersebut. 

Semoga bermanfaat. 

Daud Fathani@2014

http://catatan-kecilku-daud.blogspot.com/p/blog-page_8286.html

Curhat ini mulanya ditulis di akun Facebook-ku "Daud Fathani" pada tanggal 7 Februari 2014

https://www.facebook.com/ahmad.ariansyah

Jumat, 07 Februari 2014

Setujukah Semua Pengadilan ditutup?


Untuk mengawali tulisan ini, penulis mau menanyakan kepada pembaca “Setujukah kalau seluruh pengadilan di Nusantara ini ditutup?” Sebagian besar mungkin tidak setuju kalo pengadilan ditutup. Kenapa demikian, karena pengadilan adalah sebuah kebutuhan dimana tempatnya orang untuk mencari keadilan.

Jum’at 7 Februari 2014 penulis membaca sebuah berita tentang Asrinya sebuah Pengadilan Negeri yang diwartakan oleh detik.com. Dalam berita tersebut diceritakan, suasana keindahan sebuah Pengadilan Negeri yang didesain secara rapi dan indah, dengan dilengkapi berupa taman yang ditumbuhi dua buah pohon mangga berkayu di tengah-tengah area pengadilan serta dikelilingi tanaman-tanaman berukuran kecil hingga pemandangan tersebut mengesankan keteduhan lingkungan di sekitarnya.

Kendati demikian, jujur saja, dari berita tersebut tidak ada hal yang menurut penulis aneh, unik, dan istemewa. Tapi ketika penulis membaca dari beberapa komentar di bawah tulisan berita tersebut, mata penulis dikejutkan oleh sebuah komentar unik yang menjadi perhatian penulis. Pada komentar tersebut si pengirim komentar yang berinisial RR itu berharap, semoga pada tahun-tahun kedepan pengadilan ini tutup.

Penulis menjadi penasaran dengan komentar yang menurut penulis konyol itu. Kenapa tidak? Pengadilan yang selama ini telah menawarkan jasa keadilan pada pencari keadilan, kendati masih ada sejumlah oknom pejabatnya yang tidak adil dalam memutuskan perkara, hingga ada anggapan dari sebagian rakyat kecil hukum hanya berpihak pada orang berduit. Penulis pun melanjutkan membaca isi komentar tersebut.

Mau tahu apa alasan RR pada komentarnya?? Begini sob, dalam komentarnya itu, RR menjelaskan, “setiap pelanggaran hukum pasti karena melanggar agama”. Ya, tentu donk! Suatu agama tidak mungkin mengajarkan sebuah kejahatan. Itu artinya sebuah kejahatan pasti bertentangan dengan ajaran agama. RR menambahkan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati, jadi kalo manusia menjalankan perintah Agama dan menjauhi apa yang dilarang, insya AllAh kantor pengadilan akan sepi pengunjung.”

Bayangkan saja, kalo semua orang menjauhi apa yang dilarang agama, dalam artian tidak berbuat zalim kepada orang lain, tidak mengambil hak yang bukan miliknya, tidak melakukan sesuatu yang dianggap melanggar etika dan norma kehidupan. Sudah bisa dipastikan, kehidupan yang tanpa masalah dan kehidupan yang aman, tentram, serta damai akan tercipta. Dengan demikian para pejabat pengadilan pun akan nganggur karena sepi pengunjung, dan dengan sendirinya tidak menutup kemungkinan membuat pengadilan tidak dibutuhkan dan tutup dengan suka rela.

Alhasil. Sumber daya manusia (SDM) yang agamis merupakan salah satu solusi yang menawarkan untuk memenimalisir melangitnya perkara atau kasus yang masuk di pengadilan. Kenapa penulis kata memenimalisir? karena tidak mungkin juga, menurut penulis pengadilan bisa ditutup, sebab sudah menjadi fitrah kehidupan selama masih adanya kehidupan di dunia sudah barang tentu ada yang namanya orang jahat di samping orang baik.  Untuk itulah, penulis berharap pada pemerintah untuk selalu memperhatikan pendidikan rakyat, khususnya pendidikan-pendidikan agama. Dimana menurut perhatian penulis yang merupakan satu dari sekian banyak warga yang mengeluhkan pendidikan agama hingga saat ini masih dirasa dianaktirikan.

Padahal, selain merupakan kebutuhan untuk tuntunan hidup, pendidikan agama juga merupakan pendidikan karakter yang berakhlakul karimah, yang mampu menciptakan SDM-SDM yang agamis. Idealnya, sebuah pemerintahan yang sadar akan hal demikian tidak mungkin melihat pendidikan agama sebagai pendidikan tambahan, yang berefek  pada kurangnya perhatian kepada lembaga-lembaga pendidikan agama. Tapi justru seharusnya, pemerintah wajib memandangnya sebagai pendidikan pokok dan utama.

Ringkasnya, melangitnya kasus di pengadilan tidak mungkin bisa diminimalisir apakan lagi untuk menutup sebuah pengadilan kalau tidak didukung oleh adanya SDM-SDM agamis yang lahir dari hasil pendidikan agama sejak dini.

Ditulis oleh: Daud Fathani, 7 Februari 2014

Minggu, 19 Januari 2014

Bala Pengangkat Derajat


Apa sih perbedaan antara bala dan ujian? secara umum tidak ada perbedaan antara bala dan ujian. Keduanya adalah malapetaka, kesusahan, kemalangan, dan cobaan. Namun, dalam konteks agama, bala dan ujian bisa dibedakan dengan bahwa bala adalah kesusahan atau bencana yang menimpa pada orang yang maksiat kepada Allah, sebagai bentuk teguran atau bala dari-Nya. Sedangkan ujian diturunkan pada selain orang yang berbuat maksiat, yakni orang yang taat beragama serta patuh dan tunduk kepada Allah swt. untuk menguji keimanannya.

Sebenarnya, kalau dilihat dari bentuknya, bala dan ujian sama bentuknya. Sama-sama tidak disukai adanya. Persis ibarat pinang dibelah dua, sulit untuk dibedakan. Apakah bencana atau kesusahan yang menimpa itu sebagai bentuk teguran, bala, atau sebuah ujian iman? Tergantung orang yang menyikapi dan menerimanya.

Secara rasio, tidak ada orang yang ingin hidupnya diliputi kesusahan dan penderitaan. Siapa sih yang ingin hidupnya selalu dilelet utang, sakit-sakitan, tidak naik kelas, dicemooh, di hina, disudutkan, dianaktirikan, dijahelin, kebakaran, kebanjiran, gempa dan lain sebagainya. Tentu semua orang ingin punya kehidupan yang bahagia, aman, tentram, dan sejahtera.

Penulis pernah membaca sebuah kitab kecil, "Durar al-Gawwash Ala Fatawa Sayyid 'Ali al-Khawwash," dimana dalam kitab tersebut Syekh Abdul Wahab Asy-Sya'rani menyebutkan, bahwa bala atau bencana yang menimpa seseorang bisa dikatakan sebagai bentuk siksaan, atau, teguran, ujian sekaligus penghapus dosa, atau ujian pengangkat derajat.

Bagaimana caranya? Dalam kitab yang sedang dibacakan satu kali dalam sepekan sekarang ini di majlis ta’lim Sabilal Anwar, Martapura, oleh KH. M. Syukri Unus Al-Banjari, pada kelas  takhasus tersebut dijelaskan, bala bencana bisa dikatakan sebagai teguran atau bahkan sebagai siksaan, apabila ada indikasi berupa ketidaksabaran, banyak keluh kesah, serta mengadu-adu kepada makhluk disaat bencana tersebut menimpa.

Adapun apabila bala bencana itu diterima dengan penuh kesabaran, tidak mengadu-adu kepada makhluk, tidak keluh kesah, dan tidak ada bosannya dalam mengerjakan ibadah, dalam artian ibadah terus jalan seperti sedia kala, tidak ada perubahan penurunan ibadah kendati bencana menimpa. Maka itulah yang disebut dengan bala penghapus dosa.

Lantas bagaimana dengan karakteristik bala pengangkat derajat? Masih dalam fatwa Sayyid ‘Ali yang ditulis oleh Syekh Abdul Wahab As-Sya’rani, disebutkan bahwa alamat atau karakterstik bala pengangkat derajat, berkualifikasi atau berstandar adanya sifat ar-ridah (kerelaan hati), thuma’ninah an-nafsi (ketentraman jiwa), dan as-sukun tahta al-aqdar (ketenangan di bawah kekuasaan dan taqdir Ilahi).

Artinya, orang yang menghadapi bala bencana dengan senyuman, tidak ada rasa jengkel pada Tuhan, tidak menyalahkan siapa-siapa, hatinya selalu tenang, bahkan ia beranggapan ini adalah kehendak Allah, Tuhanku, kekasihku, aku yakin ini adalah yang terbaik untukku. Itulah bala pengangkat derajat.

Kalau boleh diistilahkan, orang tersebut menganggap bala atau kesusahan apapun yang menimpa pada dirinya adalah merupakan “kado” berupa timun buruk namun di dalamnya terkandung emas murni 24 karat. Ia tidak melihat bala itu dari sisi kulitnya. Ia melihat dari sisi orang yang memberi, di samping  berkeyakinan bahwa itu kado terbaik untuknya, karena ia tahu kado tersebut hadiah dari sang kekasih, yakni Allah Swt.

Nah, jadi kalo seseorang sudah tahu bala bencana itu dari kekasihnya, mengapa harus marah, mengapa tidak diterima dengan senang hati? Mengapa tidak diterima dengan senyuman? Seorang kekasih tentu tidak akan membuat sedih orang yang dikasihinya.

Kesimpulannya, bala bencana akan menjadi sebuah siksaan apabila disikapi dengan ketidaksabaran. Sebaliknya, bala akan menjadi sebuah penghapus dosa apabila diterima dengan kesabaran. Terakhir, bala akan menjadi sebuah pengangkat derajat apabila diterima dengan keridhaan. Karena dalam sifat ridha sudah pasti ada sifat sabar, sedangkan dalam sabar belum tentu mengandung sifat ridha. Oleh karena itulah, ulama Tasawuf menyebutkan sifat ridha adalah sifat tertinggi dari sifat-sifat bathin yang terpuji. Tidak heran disebutkan, “Martabat orang sufi tertinggi ada pada ridhanya kepada Allah Swt.”

Daud Fathani @2014

Sabtu, 11 Januari 2014

Mukjizat Maulid Nabi



Saat ini seluruh umat Islam sedunia sedang bergembira merayakan hari lahirnya sosok manusia yang agung, insan kamil, manusia sempurna yang tiada duanya, yakni Nabi besar Muhammad SAW. pembawa agama Islam.

Hampir setiap hari, dimana-mana, di masjid, surau, mushola, langgar, aula, sekolah, hingga di rumah-rumah sering dijumpai sekumpulan orang sedang melaksanakan moment yang biasa disebut dengan Maulid Nabi itu.

Menurut historisnya, kelahiran Nabi besar Muhammad SAW mengandung banyak keajaiban. Keajaibain tersebut tidak hanya terjadi ketika Nabi dilahirkan hingga menjadi Rasul utusan Allah saja, tapi juga bermula sejak buntingnya Siti Aminah Az-Zuhriyyah, ibunda Rasulullah SAW.

Dalam Kitab Az-Zahr Al-Basim, Sayid Usman Betawi menyebutkan, di saat  Aminah dibuntingkan, mengandung Rasulullah, Allah SWT berseru, “Hai malaikat Ridwan tambah perhiasan surga serta buka seluruh pintunya, maka inilah kejadian kekasih Tuhan Azza Wajalla.”

Selain itu, pada hari tersebut, yakni disaat Aminah bunting, binatang-binatang di bumi berkata pada penduduk Mekkah dengan bahasa yang fasih, katanya “hai suku Quraisy, demi Tuhannya Ka’bah, ini adalah hari dibuntingkannya Nabi akhir zaman, pelitanya manusia di bumi. Beruntung orang yang percaya dan mengikut Syari’atnya. Sebaliknya, binasa orang yang mengingkarinya.”

Diceritakan, pada ketika itu kota mekkah sedang dalam keadaan kemarau panjang, pohon-pohon banyak yang kering dan mati, hingga berimbas sulit didapatnya makanan dan mahalnya harga barang. Namun, setelah dibuntingkan Rasulullah SAW, hujan pun turun, semua pohon hidup, hijau, berkembang dan berbuah, disamping itu banyak para kafilah mulai berdatangan membawa barang dagangan ke kota tersebut.

Para pendeta Yahudi dan Nasrani pun, yang mereka telah membaca kitab injil serta taurat, menghabarkan pada penduduk Quraisy Mekkah dengan katanya, “inilah waktu telah dibuntingkan Nabi akhir zaman dari bangsamu.”
Keajaiban tersebut juga dirasakan langsung oleh ibunda Rasulullah SAW, Aminah. Diceritakan, ia tidak pernah merasa berat, sakit, atau mengidam seperti perempuan lainnya, melainkan ia hanya tidak kedatangan haid.
Pada suatu ketika, antara tidur dan jaga, Aminah ditanya seseorang, katanya “apa kamu tahu bahwa kamu sekarang sedang bunting?” Tidak, jawab Aminah. “kamu telah bunting, mengandung sosok manusia junjungan dan paling mulia dari sekalian makhluk. Kelak ia menjadi pesuruh Tuhan sekalian alam.  Maka apabila kamu melahirkan, berilah nama Muhammad, dengan perintah Allah Ta’ala.” Jelasnya.

Adapun keajaiban sewaktu kelahirannya Nabi Besar Muhammad SAW, diantaranya adalah, semua berhala di dunia jatuh kebawah dan hancur. Api sembahan orang persi dan lainnya padam. Semua kursi kerajaan raja-raja di dunia jatuh ke bawah. Semua orang petapa di gunung-gunung dan dukun-dukun merasa takut dan lenyap semua perbuatan mereka.

Semua binatang, termasuk burung, berkata dengan takdir Allah SWT. Menghabarkan lahirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia dengan berbagai pujian untuknya.

Para pendeta Yahudi dan Nasrani menghabarkan zhahirnya (nampaknya) junjungan kita Muhammad SAW. dengan segala tanda-tandanya yang terdapat dalam kitab taurat dan injil.

Demikian segelintir keajaiban sewaktu Rasulullah dibuntingkan hingga lahirnya. Sedangkan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW itu sendiri, ia lahir pada waktu fajar, malam Senin 12 Rabiul awal bertepatan dengan tahun Gajah, dan siang harinya, penduduk mekkah pun mengetahuinya.

Aminah mengutus seseorang untuk menemui Abdul Muthalib, kakek Nabi, yang sedang berada di Masjidil Haram, untuk memberitakan kelahiran cucunya. Utusan mendapati Abdul Muthalib sedang duduk di Hajar dekat Baitullah. Lantas ia memberitakan bahwa Aminah melahirkan anak laki-laki.

Abdul Mutahalib sangat gembira mendengar berita tersebut. Ia pun bergegas pulang menemui Aminah. Ia melihat cucunya dengan penuh kegembiraan. Ia lihat terpancar sifat keelokkan, kemuliaan, dan nur pada cucunya tersebut.

Aminah bercerita kepada Abdul Muthalib tentang semua perkara yang pernah ia dengar, lihat, rasakan, dan semua keajaiban sejak ia bunting hingga melahirkan. Termasuk ceritanya, bahwa ia setiap bulan bermimpi ditemui satu Nabi dimana masing-masing dari Nabi tersebut berpesan agar kelak menamai anaknya dengan “MUHAMMAD”. Kegembiraan Abdul Muthalib pun bertambah, lantas ia bawa cucunya ke Masjidil Haram, ia masukkan tangannya ke Baitullah dan berkata,

الحمد لله الذي اعطاني هذا الغلام الاردانى

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberiku seorang anak laki-laki yang bersih suci asal-usulnya.

Selanjutnya, Abdul Muthalib menamai cucunya tersebut dengan Muhammad serta memberikan jamuan makan kepada Seluruh penduduk Mekkah.

Tidak hanya Aminah dan Abdul Mutalib saja yang bergembira atas kelahiran Rasulullah. Abu Lahab, paman Nabi pun, ketika ia diberi tahu budaknya bahwa ia mendapatkan keponakan laki-laki berwajah elok dan berbagai kebagusan lainnya ia sangat gembira, hingga ia berucap pada budaknya, “kamu sekarang merdeka”.

Diceritakan, walaupun Abu Lahab musuh Islam, yang jelas-jelas satu surah penuh dalam al-Qur’an, surah al-Lahab, menyebutkan tentang kecelakaan dan kebinasaannya. Ia diberikan keringan hukuman siksa setiap hari senin, berkat pernah satu kali gembira menyambut kelahiran Rasulullah SAW.

Ini adalah tantangan bagi muslimin dan muslimat. Sudah sewajarnya kita menyambut hari Maulid Nabi dengan penuh kegembiraan. Sangat ironis kalau orang Islam itu sendiri tidak tahu-menahu, masa bodoh, dengan datangnya bulan maulid, yakni Rabiul Awal, hari lahirnya Rasulullah SAW.

Sayidina ‘Ali berkata, siapa yang membesarkan Maulid Nabi, dan adalah ia penyebab bagi dibacanya, tidak keluar ia dari dunia melainkan dengan membawa iman serta masuk surga tanpa hisab.

Syekh Al-Ma’ruf al-Karkhi berkata, barangsiapa menyiapkan makanan untuk hidangan pembacaan Maulid Nabi, serta ia kumpulkan orang, ia nyalakan lampu, ia pakai pakaian baru, berminyak harum, karena membesarkan hari kelahiran Rasulullah SAW, niscaya Allah kumpulkan ia beserta golongan pertama dari para Nabi, dan adalah ia pada a’la ‘iliyyin.

Selain itu, disebutkan dalam kitab Majmu karya KH. Munawwar Gazali, cucu Syekh Muhammad Kasyful Anwar, jika dibaca maulid Nabi atas air, maka siapa saja yang meminum air tersebut masuk ke dalam hatinya seribu nur (cahaya) dan rahmat.

Subhanallah. Sungguh luar biasa keistimewaan Maulid Nabi. Mukjizat yang mengandung berjuta keajaiban dan keistemewaan.

Semoga dengan adanya catatan ini dapat memberikan pencerahan. Menambah kecintaan kita terhadap Nabi besar Muhammad SAW. Amin.

Selamat hari Maulid Nabi, 12 Rabiul Awwal 1435 – 14 Januari 2014.


Selesai ditulis, 11 Januari 2014@Daud Fathani

Terima Kasih atas Kunjungannya.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India