Kamis, 27 Februari 2014

Setir Aluan Bersama Thomas Edison



"Banyak jalan menuju Roma" (pribahasa Indonesia)

Begitulah yang sering kita dengar dari para motivasi, guru, atau dosen di kampus kita. Memang benar apabila kita menemui kegagalan, janganlah langsung putus semengat, apakan lagi putus asa. Allah tidak suka orang yang putus asa. Ingat banyak jalan menuju Roma. Tapi, bukan Bang Haji Roma Irama ya..., hheee.

Maksudnya, banyak jalan atau cara dalam meraih impian. seperti banyaknya jalan menuju kota Roma. Jadi, kalo kita gagal dengan cara ini, cobalah dengan cara yang lain. Kalo masiih gagal lagi, carilah cara lainnya lagi, dan seterusnya.

Pernahkah sobat dengar, siapa sih penemu listrik pertama kalinya? Dialah Thomas Edison, seorang anak manusia yang pantang menyerah. Diceritakan dalam sebuah buku karya Dr. Ibrahim El-Fiky, ia pernah gagal sebanyak 9.999 kali sebelum akhirnya menemukan listrik, namun ia tidak pernah menyerah. Selalu mencoba. Sudah barang tentu banyak cara yang pernah ia lakukan untuk mencapai impiannya tersebut. Dah akhirnya, ia pun membuktikan, bahwa ia bisa. Berhasil menggapai impiannya, yang mungkin dulu hanyalah sebuah mimpi yang ngak ada dalam kamus dunia nyata.

Andai saja dulu tidak ada orang yang seperti beliau, niscaya dunia ini masih gelap tanpa penerangan listrik, dan pekerjaan yang kita lakukan terasa sulit dan berat, karena semuanya bersifat manual dan alami. Sosok seperti Thomas Edison ini patut dijadikan teladan untuk menyetir aluan kita biar ngak kandas di tengah jalan.

Oke, masih semangat membaca tulisan ini? Kalo udah lelah ya Daud cukupkan sampai di sini saja dulu tulisannya. Kasihan mata sobat seperti tinggal 5 watt. hhee

Oleh : Daud Fathani, 27 Februari 2014

Rabu, 26 Februari 2014

BERCERMIN PADA PELAYAR TANGGUH

 
 
"Laut tenang tidak melahirkan pelayar tangguh"

Kalimat di atas terpampang di diding rumahku (kost) dimana aku tinggal sekarang. Tulisan tersebut aku temukan disebuah buku yang pernah aku baca. Menurutku, tulisan ini sarat dengan motivasi, dan akhirnya aku tulis di gabus putih dengan ukuran cukup besar, tingginya kurang lebih satu hasta dan lebarnya satu meter dan diberi cat biar ada warna-warninya. Tidak lupa pula, agar terlihat agak timbul sedikit tulisannya maka akupun menyerat semua hurupnya satu persatu.

Bagi sobat-sobat yang pernah ke rumahku mungkin merika sudah pernah melihatnya. Hasil ulah tanganku tersebut memang kurang begitu bagus, karena aku bukan seniman dan juga bukan pengrajin. tapi kesannya cukup unik dan kreatif.

Sob, kalau kita artikan Kalimat di atas sepertinya kurang lebih begini, seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pelayar tangguh atau pelayar ulung sebelum ia mampu menerjang ombang dan badai yang mau memecahkan perahunya dengan selamat. Karena Kalo hanya berlayar di laut tenang itu, tiada ombak besar dan tiada badai, itu mah biasa. Tapi kalo berlayar di tengah lautan yang penuh dengan ombak menggunung yang sewaktu-waktu bisa memecah dan menenggelamkan perahu layarnya, itu baru luar biasa. Karena untuk mendapatkan predikat pelayar tangguh, harus berani berjuang, memutarkan aluan kedepan, dan pantang surut kebelakang.

Begitu pula halnya dengan kehidupan kita, untuk mendapatkan predikat sukses, karena kesuksesan bagian dari cita-cita semua orang, perlulah kiranya kita berjuang layaknya perjuangan seorang pelayar tangguh.

Memang kita tidak perlu harus ke laut, karena kita bukan pelayar. Berenang aja bisa ngak? hhee. Perjuangan kita bukan di laut. Perjuangan kita ada pada semua aktivitas yang kita kerjakan. Pedagang, misalnya. Ia harus rajin memasarkan dagangannya, pandai-pandai ngelobi konsumen, dan cerdas dalam menentukan harga jual barang biar mendapatkan keuntungan yang besar dan konsumen pun puas.

Bagi pelajar pun demikian, ia harus rajin belajar dan jangan bermalas-malasan. Ringkasnya, predikat sukses tidak ada yang gratis. Ia hanya bisa didapat dengan cara mengarungi perjuangan yang penuh ombak dan badai rintangan.

Berdiam diri ibarat berlayar dilaut tenang. Semua orang pun bisa. Dan itu tidak bisa menghasilkan kesuksesan. Semoga kita bisa bercermin dengan kehidupan pelayar tangguh. Amiin.
 

Selasa, 25 Februari 2014

Asumsi Salah atau Benar?




Pada kebisaan, apabila orang tuanya pedagang maka anaknya juga pedagang. Orang tuanya guru anaknya pun juga guru. Orang tuanya  ulama anaknya pun kadang juga ulama. Parahnya lagi, orang tuanya maling ehh... anaknya juga ikutan maling. Zaman ini memang edan. Apa ini karena adanya asumsi masyarakat yang mengatakan "Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya?

Sepertinya sih kalimat di atas memang benar dan masuk akal. Tapi tidak juga benar seratus persen. Masih ada di luar sana, ayahnya orang biasa tapi anaknya jadi tuan guru di kampung. Ayahnya pengemis anaknya artis. Artis dadakan kalie yach, hhee.

Ringkasnya, orang tua tidak bisa jadi cerminan untuk anaknya, dalam artian, ketika kita melihat seseorang mencuri sesuatu, jangan bilang ayahnya atau keluarganya juga pencuri atau mantan pencuri. Kala kita melihat seseorang itu sukses, jangan bilang, "Tidak heran si A itu sukses, karena ayahnya dulu juga sukses." Bisa jadi orang tersebut sukses karena ia rajin berkerja, peras keringat, banting tulang, disamping pendidikannya juga mendukung. Untuk contoh mungkin kita tidak perlu mnyebutkannya satu persatu, karena hal demikian tidak hanya sekali atau dua kali saja terjadi. Karena yang demikian bukan hal mustahil. Selama ada kemauan di situ ada jalan.

Oleh sebab itu janganlah asumsi tersebut  dijadikan alasan bagi kita untuk berhenti dari berusaha merubah nasib hidup.  Kalo tuh asumsi tersebut dijadikan alasan, takutnya nanti kamu akan patah hati atau patah semangat kala kamu menemukan kegagalan, dan akhirnya putus asa. Waduh, kalo udah putus asa nehh, bahaya..! Jangan bunuh diri donk. Allah tidak menyukai orang yang putus asa. Allah hanya menyukai orang yang mau berusaha, sabar, dan berdo'a serta berharap penuh pada-Nya.

Alah SWT. berfirman, yang artinya "Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah" (QS. al-Jum'at ayat 10).

"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah ayat 153).

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Al-Mu'min ayat 160).

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku," (QS. Al-Baqarah ayat 186).*

Bersambung. hhee

Oleh : Daud Fathani, 25 Februari 2014.

Belajar dari Ilmu Besi

Oleh: Daud Fathani



Kita diberi Allah SWT. akal pikiran yang sama. Namun, kadang kita heran, teman kita yang satu ini pintar dan jenius. Sedang yang satunya lagi, atau ngak usah jauh-jauh cari yang lain, kita saja misalnya, kurang pintar, ya ini setidaknya kalo memang kita ngak mau dikatakan bodoh. hheee

Kalau kita-kita mau mengkaji ilmu besi, mungkin kita akan mengerti kenapa yang demikian bisa terjadi . Opss.... Seperti apa yah ilmu besi itu?

Besi kalau diolah maka akan menjadi sebuah pisau. Dan apabia diasah ia pun menjadi landap. Semakin sering kita mengasahnya, ia pun akan menjadi semakin landap, landap, dan makin landap lagi.

Begitu pula halnya dengan kita. Kita ngak boleh menyalahkan Tuhan, kenapa ngak memberi kita kepintaran. Salahkan kepada kita kenapa kita ngak mengolah dengan baik, akal pikiran yang Allah berikan.

Kalo saja kita mau mengolah nikmat akal pikiran tersebut dengan baik, dengan seumpama giat belajar, membaca dan menulis, berusaha ingin tahu. Maka akal pikiran kita pun akan menjadi kuat, pintar, jenius, dan tentunya itu akan menjadi lebih baik dan berharga. Al-Ajr biQadr at-Ta'abi, balasan itu sesuai usahanya masing-masing.

Tidak ada manusia ketika dilahirkan langsung 'alim (pintar), kecuali orang-orang yang Allah kehendaki, dan itu pun jarang terjadi, ibarat seribu banding satu. Namun Allah sudah menjelaskan dalam Kitabnya, yang pahamannya insyaAllah seperti ini, Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mau berubah untuk merubahnya.

Itu artinya, kepintaran akal pikiran tidak bisa didapat kecuali dengan diusahai. Belajar, misalnya. Semakin giat kita belajar, semakin sering kita mengulang-ulangi pelajaran, maka akan semakin bertambah kualitas akal kita. Sebagaimana kata-kata Hikmah, "Lancar kaji karena diulang."

Ditulis oleh: Daud Fathani, 25 februari 2014.
Terima Kasih atas Kunjungannya.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India