Oleh: Daud Fathani
Kita diberi Allah SWT. akal pikiran yang sama. Namun, kadang kita heran, teman kita yang satu ini pintar dan jenius. Sedang yang satunya lagi, atau ngak usah jauh-jauh cari yang lain, kita saja misalnya, kurang pintar, ya ini setidaknya kalo memang kita ngak mau dikatakan bodoh. hheee
Kalau kita-kita mau mengkaji ilmu besi, mungkin kita akan mengerti kenapa yang demikian bisa terjadi . Opss.... Seperti apa yah ilmu besi itu?
Besi kalau diolah maka akan menjadi sebuah pisau. Dan apabia diasah ia pun menjadi landap. Semakin sering kita mengasahnya, ia pun akan menjadi semakin landap, landap, dan makin landap lagi.
Begitu pula halnya dengan kita. Kita ngak boleh menyalahkan Tuhan, kenapa ngak memberi kita kepintaran. Salahkan kepada kita kenapa kita ngak mengolah dengan baik, akal pikiran yang Allah berikan.
Kalo saja kita mau mengolah nikmat akal pikiran tersebut dengan baik, dengan seumpama giat belajar, membaca dan menulis, berusaha ingin tahu. Maka akal pikiran kita pun akan menjadi kuat, pintar, jenius, dan tentunya itu akan menjadi lebih baik dan berharga. Al-Ajr biQadr at-Ta'abi, balasan itu sesuai usahanya masing-masing.
Tidak ada manusia ketika dilahirkan langsung 'alim (pintar), kecuali orang-orang yang Allah kehendaki, dan itu pun jarang terjadi, ibarat seribu banding satu. Namun Allah sudah menjelaskan dalam Kitabnya, yang pahamannya insyaAllah seperti ini, Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mau berubah untuk merubahnya.
Itu artinya, kepintaran akal pikiran tidak bisa didapat kecuali dengan diusahai. Belajar, misalnya. Semakin giat kita belajar, semakin sering kita mengulang-ulangi pelajaran, maka akan semakin bertambah kualitas akal kita. Sebagaimana kata-kata Hikmah, "Lancar kaji karena diulang."
Ditulis oleh: Daud Fathani, 25 februari 2014.
Kalau kita-kita mau mengkaji ilmu besi, mungkin kita akan mengerti kenapa yang demikian bisa terjadi . Opss.... Seperti apa yah ilmu besi itu?
Besi kalau diolah maka akan menjadi sebuah pisau. Dan apabia diasah ia pun menjadi landap. Semakin sering kita mengasahnya, ia pun akan menjadi semakin landap, landap, dan makin landap lagi.
Begitu pula halnya dengan kita. Kita ngak boleh menyalahkan Tuhan, kenapa ngak memberi kita kepintaran. Salahkan kepada kita kenapa kita ngak mengolah dengan baik, akal pikiran yang Allah berikan.
Kalo saja kita mau mengolah nikmat akal pikiran tersebut dengan baik, dengan seumpama giat belajar, membaca dan menulis, berusaha ingin tahu. Maka akal pikiran kita pun akan menjadi kuat, pintar, jenius, dan tentunya itu akan menjadi lebih baik dan berharga. Al-Ajr biQadr at-Ta'abi, balasan itu sesuai usahanya masing-masing.
Tidak ada manusia ketika dilahirkan langsung 'alim (pintar), kecuali orang-orang yang Allah kehendaki, dan itu pun jarang terjadi, ibarat seribu banding satu. Namun Allah sudah menjelaskan dalam Kitabnya, yang pahamannya insyaAllah seperti ini, Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mau berubah untuk merubahnya.
Itu artinya, kepintaran akal pikiran tidak bisa didapat kecuali dengan diusahai. Belajar, misalnya. Semakin giat kita belajar, semakin sering kita mengulang-ulangi pelajaran, maka akan semakin bertambah kualitas akal kita. Sebagaimana kata-kata Hikmah, "Lancar kaji karena diulang."
Ditulis oleh: Daud Fathani, 25 februari 2014.



Selasa, Februari 25, 2014
Daud Fathani

Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar