Pada kebisaan, apabila orang tuanya pedagang maka anaknya juga pedagang. Orang tuanya guru anaknya pun juga guru. Orang tuanya ulama anaknya pun kadang juga ulama. Parahnya lagi, orang tuanya maling ehh... anaknya juga ikutan maling. Zaman ini memang edan. Apa ini karena adanya asumsi masyarakat yang mengatakan "Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Sepertinya sih kalimat di atas memang benar dan masuk akal. Tapi tidak juga benar seratus persen. Masih ada di luar sana, ayahnya orang biasa tapi anaknya jadi tuan guru di kampung. Ayahnya pengemis anaknya artis. Artis dadakan kalie yach, hhee.
Ringkasnya, orang tua tidak bisa jadi cerminan untuk anaknya, dalam artian, ketika kita melihat seseorang mencuri sesuatu, jangan bilang ayahnya atau keluarganya juga pencuri atau mantan pencuri. Kala kita melihat seseorang itu sukses, jangan bilang, "Tidak heran si A itu sukses, karena ayahnya dulu juga sukses." Bisa jadi orang tersebut sukses karena ia rajin berkerja, peras keringat, banting tulang, disamping pendidikannya juga mendukung. Untuk contoh mungkin kita tidak perlu mnyebutkannya satu persatu, karena hal demikian tidak hanya sekali atau dua kali saja terjadi. Karena yang demikian bukan hal mustahil. Selama ada kemauan di situ ada jalan.
Oleh sebab itu janganlah asumsi tersebut dijadikan alasan bagi kita untuk berhenti dari berusaha merubah nasib hidup. Kalo tuh asumsi tersebut dijadikan alasan, takutnya nanti kamu akan patah hati atau patah semangat kala kamu menemukan kegagalan, dan akhirnya putus asa. Waduh, kalo udah putus asa nehh, bahaya..! Jangan bunuh diri donk. Allah tidak menyukai orang yang putus asa. Allah hanya menyukai orang yang mau berusaha, sabar, dan berdo'a serta berharap penuh pada-Nya.
Alah SWT. berfirman, yang artinya "Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah" (QS. al-Jum'at ayat 10).
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah ayat 153).
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Al-Mu'min ayat 160).
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku," (QS. Al-Baqarah ayat 186).*
Bersambung. hhee
Oleh : Daud Fathani, 25 Februari 2014.
Sepertinya sih kalimat di atas memang benar dan masuk akal. Tapi tidak juga benar seratus persen. Masih ada di luar sana, ayahnya orang biasa tapi anaknya jadi tuan guru di kampung. Ayahnya pengemis anaknya artis. Artis dadakan kalie yach, hhee.
Ringkasnya, orang tua tidak bisa jadi cerminan untuk anaknya, dalam artian, ketika kita melihat seseorang mencuri sesuatu, jangan bilang ayahnya atau keluarganya juga pencuri atau mantan pencuri. Kala kita melihat seseorang itu sukses, jangan bilang, "Tidak heran si A itu sukses, karena ayahnya dulu juga sukses." Bisa jadi orang tersebut sukses karena ia rajin berkerja, peras keringat, banting tulang, disamping pendidikannya juga mendukung. Untuk contoh mungkin kita tidak perlu mnyebutkannya satu persatu, karena hal demikian tidak hanya sekali atau dua kali saja terjadi. Karena yang demikian bukan hal mustahil. Selama ada kemauan di situ ada jalan.
Oleh sebab itu janganlah asumsi tersebut dijadikan alasan bagi kita untuk berhenti dari berusaha merubah nasib hidup. Kalo tuh asumsi tersebut dijadikan alasan, takutnya nanti kamu akan patah hati atau patah semangat kala kamu menemukan kegagalan, dan akhirnya putus asa. Waduh, kalo udah putus asa nehh, bahaya..! Jangan bunuh diri donk. Allah tidak menyukai orang yang putus asa. Allah hanya menyukai orang yang mau berusaha, sabar, dan berdo'a serta berharap penuh pada-Nya.
Alah SWT. berfirman, yang artinya "Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah" (QS. al-Jum'at ayat 10).
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah ayat 153).
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Al-Mu'min ayat 160).
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku," (QS. Al-Baqarah ayat 186).*
Bersambung. hhee
Oleh : Daud Fathani, 25 Februari 2014.



Selasa, Februari 25, 2014
Daud Fathani

Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar