
Nama kampung halamanku ini kedengarannya memang cukup unik, desa
“BATALAS”. Dan ini terbukti, saat salah satu temanku di Pondok Pesantren
Darussalam Martapura mendengar nama Batalas ia sedikit ketawa. Mungkin
karena agak lucu. Atauuu??? Ya sedikit anihlah, hingga temanku tersebut
tersenyum-senyum sedikit karena menahan tawa.
Kenapa bernama Batalas? Apa dulu di desa ini banyak talas atau pisang
talasnya? Mana aku tahu. Ya mungkin saja dulunya banyak talas atau
pisang talasnya di sini sehingga diberi nama “Batalas”. Yang pastinya
menurutku biasanya sebuah daerah pasti memiliki nilai historisnya, dan
itu sudah barang tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada pemberian
nama daerah tersebut.
Terlepas dari hal di atas, desa Batalas termasuk bagian dari desa-desa
yang berada di wilayah kecamatan Candi Laras Utara kabupaten Tapin,
Kalimantan Selatan. Di desa Batalas inilah kedua orang tuaku dan semua
saudara-saudariku dilahirkan dan tinggal. Begitu pula halnya dengan
kebanyakan sanak kerabatku lahir dan tinggal di desa yang terletak
dipinggiran sungai Negara itu.
Waktu aku masih kecil, di desa Batalas belum ada lampu penerangan alias
listrik. Semua penduduk mayoritas menggunakan lampu semprong, lampu
duduk atau lampu colok, untuk digunakan sebagai penerangan di malam
hari.
Selain itu, waktu aku masih kecil, jalan darat yang menghubungkan desa
tersebut dengan daerah lainnya (Buas-buas, Rawana, Baulin, dan
Margasari), selain dengan desa Telok Haur masih belum ada. Jadi, semua
warga yang berada di sana kalau mau kemana-mana harus menggunakan kapal
bermotor atau kelotok. Karena alat transportasi paling banter di sana
waktu itu hanyalah jukung, kelotok, kapal, dan alat transportasi air
lainnya. Belum ada kendraan alias sepeda motor. Kalau sepeda tinjak sih
ada, tapi bisanya hanya untuk pergi ke sekitar desa Batalas dan desa
Telok Haur saja. Tidak bisa dibawa kemana-mana.
Menurut perkiraanku, bisa memakan waktu setengah jam hingga berjam-jam
baru akan bisa sampai ke kecamatan (Margasari) kalau pergi dari desa
Batalas dengan menggunakan kelotok. Adapun kalau menumpang kapal-kapal
taksi, waktu yang diperlukan cukup bervariasi. Ada yang lebih cepat dari
kelotok dan ada juga sebaliknya. Namun sangat disayangkan kapal-kapal
taksi tersebut berlabuh hanya pada hari-hari tertentu, seperti pada hari
Senin, Rabu, dan Jum’at. Jadi bagi masyarakat yang tidak memiliki alat
transportasi atau kelotok sendiri, harus banyak bersabar kalau mau
bepergian waktu itu.
Sesuai dengan namanya terpencil, sudah barang tentu desa ini lebih
identik dengan sebuah desa tertinggal. Desa yang memiliki populasi yang
tidak seberapa. Sehingga membuat desa Batalas ini menjadi sulit untuk
maju dan berkembang. Tetapi kendati demikian, walau pun hidup kami dalam
serba keterbatasan waktu itu, lampu penerangan belum masuk ,dan jalan
darat belum tembus, susah mau ke sana-sini, mau beli sayur tapi tidak
ada paman sayur yang berjualan keluar masuk kampung seperti sekarang,
kami semua tetap bisa hidup dalam keadaan rukun, damai, bahagia dan
sejahtera.
Bahkan menurutku, masa kecilku yang pernah menyaksikan serta merasakan
langsung bagaimana hidup dalam segala keterbatasan itu, dimana dulunya
aku pernah merasakan bagaimana hidup tanpa ada listrik, tidak ada HP,
tidak ada televisi, tidak ada CD/DVD, tidak ada kulkas, tidak ada sepeda
motor, dan tidak ada ini-itu, dan sekarang tahun 2014 semua bisa
diperoleh dan dinikmati dengan mudah, dengan adanya dua nikmat besar
yang Allah berikan itu, yaitu adanya penerangan dan jalan darat yang
tembus ke kecamatan dan lainya, aku dapat dengan mudah merasakan bahwa
ini semua merupakan bagian dari nikmat Allah yang paling besar yang
patut dan wajib disyukuri. Lain Syakartum La Azidannakum.
Sebagai catatan, ada beberapa hal kegiatan masyarakat tempo dulu yang
sekarang menurutku sangat sulit ditemukan. Pertama, dulu hampir disetiap
buah rumah kalau malam terdengar suara orang mengaji, sedang sekarang?
suara Televisi dengan berbagai acara menghiasi rumah-rumah warga.
Kedua, dalam rangka menyambut kedatangan dan menyerakkan bulan suci
Ramadhan sebagian warga membikin lampu hias atau yang disebut dengan
dadamaran yang diletakkan di depan rumah. Bentuknya beranika ragam. ada
yang berupa bintang yang terbuat dari kertas lalu dikasih lampu di
dalamnya, dan ada juga seperti lampu ubur biasa yang terbuat dari bambu,
dan bentuk lainnya.
Bagi warga yang tidak mau ambil pusing, mereka meletakkan lampu minyak
tanah biasa di depan rumah. Dan kalo lampu tersebut adalah lampu colok
yang terbuat dari bekas kaleng susu dan sebagainya, agar tidak mudah
padam tertiup angin maka warga meletakkannya di dalam ember yang
ditelengkupkan di atas pelataran rumah.
Sekarang, tidak ada lagi istilah badadamaran tersebut. Mungkin karena
faktor jalanan sudah terang jadi dirasa tidak perlu lagi membuat
dadamaran. Padahal menurutku tujuan orang tempo dulu bedadamaran bukan
hanya sebatas untuk penerangan lampu di jalanan, tetapi juga untuk
menyemarakkan dan membuat istemewa bulan suci Ramadhan sebagai bukti
bahwa masyarakat bergembira karena kedatangan bulan mulia tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa bergembira dengan masuknya bulan
suci Ramadhan, maka Allah SWT mengharamkan jasadnya atas api Neraka”.